Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Mei 2014

NASIONALISME ISLAM

Adakah konsep nasionalisme di dalam Islam.? Islam dan nasionalisme merupakan dua buah hal yang saling berlawanan. Konsep nasionalisme yang diluncurkan oleh barat tidak compatible dengan Islam. Bukankah sejarah juga telah mencatat keruntuhan khilafah ustmaniyah salah satunya disebabkan karena muncul dan berkembangnya  spirit nasionalisme dikalangan bangsa arab yang ingin memisahkan diri dari bangsa Turki ustmani yang saat itu dianggap sebagai simbol kesatuan umat Islam seluruh dunia. Ide nasionalisme menghancurkan khilafah Islamiyah.
            Barat telah berhasil memecah-mecah negeri-negeri Islam menjadi Negara-negara yang mandiri. Namun, meski demikian kebanyakan kaum muslimin tetap punya perasaan sama bila kaum Muslim di luar negerinya dizhalimi. Banyak dari organisasi Islam yang berusaha menjayakan Islam di negerinya dan menjadikan negerinya Islami. Sehingga

Sabtu, 05 April 2014

Musyarakah Siyasiyyah


            Ikhwa fillah, yang dimaksud dengan musyarakah siyasiyyah adalah keterlibatan jamaah dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan kemaslahatan umum di lembaga- lembaga politik formal maupun informal, di tingkat nasional atau daerah beserta seluruh aktivitas yang mengikutinya seperti pemilihan umum, koalisi, dan aktivitas politik lainnya1.
            Diantara tuntutan syumuliyyatud da’wah adalah keterlibatan dan kehadiran kita dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat, terutama memasuki kancah pengambilan keputusan.
            Ikhwah fillah, manfaat yang kita ingingkan dari keberadaan ikhwah di lembaga-lembaga kenegaraan adalah mampu menyuarakan dakwah di sana dengan meminimalisir keputusan-keputusan yang bertentangan dengan syariat Islam dan memperbesar peluang diberlakukannya keputusan yang lebih memudahkan dakwah Islam untuk semakin kuat dan tersebar. Syaikh Abdurrahman As-Sa’adi dalam tafsirnya berkata:

Orasi Aksi Milad KAMMI 29 Maret 2014

Kawan-kawan sekalian, peserta aksi milad KAMMI ke-XVI. Tidak kurang 10 hari lagi kita akan melaksanakan sebuah pesta demokrasi akbar yang akan menentukan nasib bangsa ini 5 tahun kedepannya. Kita ketahui bersama bahwasanya pemilu merupakan cara paling aman dan konstitusional dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Tetapi yang menjadi pertanyaannya, apakah pemilu ini benar-benar bisa menyelesaika persoalan bangsa…???
Sebelum kita menjawab pertanyaan itu, Ada satu hal terlebih dahulu ingin saya sampaikan, saya menghimbau kepada seluruh partai politik peserta pemilu, ketika melakukan perekrutan bakal caleg, lakukan dengan cara yang ketat sesuai dengan visi misi yang partai perjuangkan. Jangan semata-mata karena  si bakal caleg punya modal yang besar lantas diloloskan dalam penjaringan. Lakukanlah penjaringan yang betul dan baik. Dengan sumber informasi yang serba terbatas, kasihan masyarakat yang harus mencari, mengenal, dan mempelajari caleg-caleg yang bakal dipilih, ada ratusan nama caleg.

PENDIDIKAN POLITIK BAGI PEMILIH PEMULA


           Pendidikan politik adalah segala sesuatu kegiatan yang berkaitan dengan urusan yang menyangkut kepentingan dari sekelompok masyarakat (negara) guna mengetahui hak-hak dan kewajibannya. Pendidikan politik mengajarkan masyarakat untuk lebih mengenal sistem politik negaranya. Dapat dikatakan bahwa pebdidikan politik adalah proses pembentukan sikap dan orientasi politik para anggota masyarakat. Melalui proses pendidikan politik inilah para anggota masyarakat memperoleh sikap dan orientasi terhadap kehidupan politik yang berlangsung dalam masyarakat.
Dengan adanya pendidikan politik diharapkan setiap individu dapat mengenal dan memahami nilai-nilai ideal yang terkandung dalam sistem politik yang sedang diterapkan. Kemudian, dengan adanya pendidikan politik setiap individu tidak hanya sekedar tahu saja tapi juga lebih jauh dapat menjadi seorang warga negara yang memiliki kesadaran politik untuk mampu mengemban tanggung jawab yang ditunjukkan dengan adanya perubahan sikap dan peningkatan kadar partisipasi dalam dunia politik.

Senin, 09 Juli 2012

Pembentukan Moral Melalui Sentuhan Nilai Agama


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Krisis moral dan kepribadian menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita.. Penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tersebarnya tempat-tempat maksiat dan penyimpangan-penyimpangan perilaku lainnya menghiasi kehidupan kita. Sampai saat ini, upaya-upaya telah banyak dilakukan oleh banyak pihak, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Namun upaya-upaya tersebut tidak harus ditiadakan atau dikurangi tetapi harus lebih ditingkatkan tetapi lebih simultan dan komprehensif.
      Seorang pemikir islam pernah mengutrakan hasil pengamatannya tentang kondisi umat islam saat ini. Salah satu fenomena yang terjadi adalah hilangnya kepribadian sitimewa dikalangan umat muslim. Seperti yang dikemukakan oleh Ihsan Tanjung (2001:X). Sebagai berikut

Kamis, 05 April 2012

Menyusuri Jejak Kegemilangan Islam



Ketika memulai tulisan ini, penulis mendapatkan satu pertanyaan yang sangat menghantui penulis. Pertanyaan ini muncul dan timbul menjadi menjadi semakin besar ketika satu persatu fakta yang didapatkan menggambarkan betapa besarnya sejarah yang dimiliki umat islam. Para pengembara agung yang menyebar diseluruh dunia islam meninggalkan jejak yang yang sangat mulia dalam takaran peradaban. Ilmu, keshalihan, serta kearifan mereka membuat kita berdecak kagumsekaligus merasa tidak berdaya.

Kemudian timbul pertanyaan baru, "Apakah Islam hanya gemilang dan cemerlang pada masa lalu?" Apakah kita hanya mampu dan bisa mengagumi masa lalu? Tentang kegagahan, kebesaran, dan tentang keagungan peradaban yang berhasilan dibangun oleh umat islam terdahulu.

Hari ini nyaris kita tidak bisa membanggakan apapun tentang islam dalam komunitas kaum Muslimin. Politik Islam hari ini, tak ada yang bisa kita jadikan kiblat. Ekonomi Islam hari ini, tidak ada yang bisa dijadikan referensi. Intelektualitas Islam hari ini, terkungkung hanya membanggakan masa lalu. Umatnya lemah, baik daya tawar dan juga posisinya. Apakah Islam telah berubah?

Sebenarnya bukan Islam yang berubah menjadi rendah. Islam, insa Allah tetapu tinggi dan mulia. Lalu siapa yang berubah kualitasnya?

Mungkin kita. Kaum muslimin yang mengaku dan memeluk Islam. Kualitas kita yang berubah menjadi rendah. Kita tidak lagi seperti orang-orang dahulu, yang dengan tunduk dan patuh melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya dengan utuh. Kita memiliki berjuta pertanyaan yang diajukan bukan membuat kita untuk semakin yakin, malah sebaliknya sebagai cara untuk menghindar.

Apakah kita hanya mampu berbangga dengan masa lalu? Jika hari ini kaum Muslimin berada di pinggir jurang yang cukup mengancam, lalu bagaimana dengan masa depan kaum Muslimin nanti? Apakah lebih buruk dari hari ini, atau mulai menemukan setitik cahaya?

Dengan semangat mencari motivasi, seharusnya masa depan jauh lebih terang dari sekarang. Itu juga yang menjadi alasan kami untuk mencari dan menggambarkan kepada kaum Muslimin tentang pijakan sejarah yang kita miliki. Agar mampu menatap dan membangun masa depan yang lebih baik mulai dari sekarang.

Sebab, kata orang-orang bijak, siapa yang memiliki sejarah maka dia akan memiliki masa depan yang cearah. Semakin kita kebelakang menelusuri kegemilangan sejarah Islam, maka semakin cemerlang cahaya yang kita temukan. Tugas kita hari ini adalah, bagaimana membawa cahaya itu ke waktu sekarang. Agat bisa menerangi hari kita dan menjadi bekal di esok hari. Insya Allah.


Sebagian dikutip dari majalah Sabili No. 13 Th XVI 15 Januari 2009/18 Muharram 14 30

Jumat, 30 Desember 2011

Renungan

Hidup Manusia itu Seperti Sebuah Buku..

Sampul Depan Adalah Tanggal Lahir,

Sampul Belakang Adalah Tanggal Kembali..

Tiap Lembarannya Adalah Hari-hari Dalam Hidup..

Ada Buku Yang Tebal, Ada Pula Buku Yang Tipis..

Hebatnya.......!!!

Seburuk Apapun Halaman Sebelumnya, Selalu Tersedia

Halaman Selanjutnya Yang Bersih, Baru & Tiada Cacat..

Seperti Halnya Dalam Hidup, Seburuk Apapun kemarin,

ALLAH Swt Selalu Menyediakan Hari Yang Baru Untuk

Kita, kesempatan Yang Baru Untuk Bisa Melakukan

Sesuatu Yang Benar Setiap Hari..

Memperbaiki Kesalahan & Melanjutkan Alur Cerita Yang

Sudah Ditetapkan-Nya..

^^ Selamat Berjuang Mengisi Lembar Demi Lembar

Dengan Semangat Kebaikan.^^

Beginilah Tarbiyah Mengajarkan Kami

Belum lama saya berada di dalam kehidupan kampus, namun tidak sedikit pula pengalaman yang sudah saya dapatkan, mulai dari tugas yang menumpuk yang harus dikerjakan sampai tengah malam, tawuran tidak jelas antar fakultas yang kadang-kadang muncul secara tiba-tiba, kelelahan fisik yang kami terima di bangku kuliah ditambah pengumplan oleh para senior. Tetapi semua ujian tersebut mampu kami hadapi dengan berusaha sekuat tenaga dan selalu ingat kepada Allah swt, Seperti yang selalu diingatkan kepada kami di dalam tarbiyah.

Tarbiyah.. adalah semacam pelepas dahaga bagi kami, ia memancarkan air ia memancarkan cahaya untuk menembus langsung pada jiwa-jiwa kami. Tarbiyah adalah pendidikan namun bukan hanya terhenti pada titik itu, ia melepaskan jiwa yang tadinya hanya terbelenggu oleh mata “dunia” saja menjadi jiwa yang mampu menaklukkan dunia dengan satu tujuan yakni Ridha Allah SWT.

Lalu seperti apa tarbiyah itu? Tarbiyah itu membuat jiwa yang kering menjadi basah, membuat jiwa yang lemah menjadi kuat. tarbiyah yang kami dapatkan bukanlah hanya sekedar transfer pengetahuan, namun juga berikut aplikasi dari ‘ilmu itu. Tarbiyah yang kami jalani adalah tarbiyah yang hidup di tengah-tengah kehidupan kami, bukan hanya saat pertemuan pekanan yang disebut liqo’ namun tarbiyah itu ada pada kami walaupun kami hanya sendirian.

Kader tarbiyah adalah manusia sama seperti Anda..ia juga lupa dan salah, namun tarbiyah telah ajarkan kami bagaimana agar hidup ini dijalani dengan berusaha sekuat tenaga untuk selalu ingat kepada Allah SWT mengikuti sunnah Rasulullah SAW, mencintai ulama dan umaro dan juga kaum mukmin lainnya serta menjaga hubungan baik dengan non muslim.

Tarbiyah mengajarkan kepada kami untuk menjalani hidup dengan kejujuran, menjalani hidup dengan optimis, menjalani hidup dengan perasaan cinta sebagai makhluk Allah SWT kepada makhluk lainnya. Maka apa ada yang salah dengan kami? Karena itulah kami berusaha untuk masuk ke semua elemen dalam bangsa ini, karena satu alasan yakni kami juga punya saham di negeri ini sebagai anak bangsa yang tak ingin negerinya terpuruk terus menerus..

Tarbiyah ajarkan kami untuk bekerja tak kenal lelah, maka Anda semua tak perlu heran terkadang dini hari kami di pelosok desa, siang hari di luar kota dan malam hari harus rapat untuk urusan umat. kami coba resapi taushiyah guru kami KH Rahmat Abdullah,

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai”.

“Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari”.

“Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah”.

“Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang”.

“Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan”.

“Tidak. Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih tragis”.

Saudaraku.. Tarbiyah mengajarkan banyak hal kepada kami untuk selalu bekerja.. Selalu berusaha menebarkan kebaikan dalam setiap saat meski terkadang lelah mendera, meski harus berhadapan dengan sebuah kondisi sulit dalam kehidupan pribadi kami namun tarbiyah sekali lagi mengajarkan kepada kami bahwa umat ini lebih kami cintai dibanding diri kami sendiri.

Maka kami akan terus bergerak.. Terus melaju untuk menyebarkan cinta, untuk menyebarkan sebuah kalimat Islam itu rahmatan lil ‘alamin itu saja.

beberapa disadur dari Dakwatuna.com

Membentuk Generasi Baru Dengan Tarbiyah

Motivasi bagi kita semua para aktivis dakwah kampus untuk terus membuat tersenyum kampus kita dengan prestasi....!!!!

Pesona Aktivis Tarbiyah

dakwatuna.comDalam potongan sejarah dunia kampus selalu mencatatkan perubahan besar. Kita dapat melihat bagaimana pergolakan kampus mampu meruntuhkan kekuasaan para rezim otoriter. Kekuasaan otoriter Soekarno berakhir dalam pelukan demonstrasi mahasiswa. Sang Bapak Bangsa “Soeharto” tak ketinggalan merasakan bagaimana kekritisan mahasiswa. Mereka dipaksa mundur kaum muda akibat kegagalan mengelola bangsa menuju alam lebih baik. Dalam tataran gagasan, banyak perubahan Indonesia juga banyak bermula dari pemikiran aktivis kampus. Nilai strategis itu melahirkan sebutan “kampus adalah miniatur negara”. Jika ingin menatap masa depan sebuah negara, lihat bagaimana pergolakan dunia intelektual di kampus.

Gerakan tarbiyah sendiri mulai merambah kampus sekitar tahun 1980-an. Banyak pemikiran Ikhwanul Muslimin Mesir menginspirasi kalangan muda tarbiyah. Pesona pemikiran tokoh IM semisal Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Sayyid Sabbiq memenuhi dialektika mahasiswa. Para mahasiswa mendapatkan sentuhan segar indoktrinasi ke-Islaman. Mahasiswa diajak berpikir bagaimana hidup secara Islami menggantikan pemikiran sekuler. Mentoring tumbuh menjamur di pelosok kampus baik negeri atau swasta. Sikap simpatik aktivis dakwah membuat pengaruh tarbiyah merasuki kehidupan mahasiswa. Di pojok kampus lantunan Al-Qur’an menggema, menggeser kebiasan nongkrong yang tidak produktif.

Kaum tarbiyah tak hanya menawarkan sentuhan nilai ruhani. Justru tanpa disadari dari masjid kampus perlawanan terhadap rezim Soeharto bermunculan. Aktivis tarbiyah mulai merintis gerakan menumbangkan kekuasaan Soeharto dan membangun konsep Indonesia baru. Mereka berhasil mengamankan diri dari serbuan agresivitas aparat karena tipikal gerakan yang defensif. Sebuah generasi yang siap menggantikan kepemimpinan kaum tua. Mereka selalu dihinggapi keresahan akibat struktur kehidupan bernegara yang timpang. Dampak krisis ekonomi 1997 dimana rakyat sengsara, membuat kekritisan kaum mahasiswa terus bertambah. Aksi kaum mahasiswa yang dipelopori anak muda tarbiyah makin marak. Puncaknya 21 Mei 1998, terjadi gelombang perubahan bertajuk reformasi.

Kaum Intelektual Prestatif

Seringkali sebagai mahasiswa kita salah kaprah dalam memaknai prestasi. Kita mengalami redefinisi prestasi sebagai sebuah nilai kebanggaan atas nilai keduniaan. Prestasi menjadi terbatas sebagai nilai IPK tinggi, harta yang banyak dan kehidupan mewah. Tidak dapat disalahkan memang, sebab ukuran keberhasilan seringkali atas perspektif duniawi. Tapi sebagai aktivis tarbiyah, kesalahan paradigma itu harus diluruskan untuk menciptakan momentum perubahan. Kampus berpeluang besar mencerdaskan salah kaprah yang selalu terjadi. Tanpa menghilangkan makna diatas, kata prestasi harus diberikan nilai tambah bernama keimanan. Sebab dasar keimanan mampu membentuk moralitas dan menghasilkan manusia cerdas.

Dalam dunia kampus, makna prestasi tidak hanya IPK tinggi. Perlu ada redefinisi bagaimana merumuskan penilaian mahasiswa berprestasi. Kita jangan terjebak penyempitan makna, sehingga terjebak pada generalisasi kata prestasi. Mahasiswa sebagai kaum intelektual jangan terjebak pada pragmantisme sempit. Ketika rutinitas akademik menjebak, persoalan lain tidak mampu tertuntaskan. Maka pengetahuan harus sinergis dengan nilai religius. Penulis mencoba mengurai,tiga kebiasaan membentuk mahasiswa tarbiyah yang selalu segar dan energik.

Pertama membaca sebagai energi utama kehidupan mahasiswa. Kebiasaan membaca berfungsi membangun konstruksi berpikir mahasiswa. Semakin banyak membaca wawasan berpikir akan makin luas. Kita dapat menyaksikan bacaan seseorang dapat menentukan kualitas kehidupannya. Tak heran di negara maju seperti AS dan Jepang, membaca menjadi rutinitas harian. Mereka meluangkan dan mengisi waktu dengan membaca. Sebuah kebiasaan yang memantik kemampuan kognisi seorang manusia modern. Mahasiswa tarbiyah sejatinya harus membiasakan diri membaca. Kebiasaan ini dipupuk agar kompetensi dan daya saing meningkat. Sehingga dalam kehidupan kampus, aktivis tarbiyah tidak diremehkan sisi akademisnya. Jika ini mampu dilakukan tunas tarbiyah akan berkembang dan bercitra baik di mata civitas akademika.

Kedua, menulis sebagai ajang ekspresi kemampuan menuangkan kata. Masalah sebagian besar mahasiswa adalah mereka gagal menuangkan perkataan dalam bahasa tertulis. Kaum tarbiyah harus mampu merubah “nilai negatif” itu, kemudian menyulap menjadi sebuah nilai ilmiah. Menulis harus dibiasakan sebab cenderung bertahan lama dan mendifusi pemikiran ke publik. Jika seorang aktivis tarbiyah mampu menulis, katakanlah di sebuah media kampus. Dia mampu melawan opini negatif atas berbagai komentar miring terhadap aktivitas ke-Islaman kampus. Bahkan tak jarang, tulisan mereka mampu mengubah opini publik atas sebuah isu. Jika dikaitkan kehidupan akademis, menulis dapat merambah ranah ilmiah. Bukan tidak mungkin, kompetisi ilmiah mampu dimenangi aktivis tarbiyah. Dalam beberapa tahun belakangan itu sudah terjadi. Kaum tarbiyah mampu membuktikan dirinya berkualitas dengan memenangi kompetisi karya tulis ilmiah.

Ketiga diskusi sebagai ajang pertukaran, pencerdasan dan kematangan gagasan. Diskusi harus mulai digencarkan aktivis tarbiyah agar kegiatan pencerdasan publik berjalan baik. Kebiasaan berdiskusi akan mampu menghasilkan rumusan berpikir konstruktif dan solutif. Nalar dan kognisi mahasiswa semakin berkembang, sehingga rumusan pemikiran menghasilkan aksi nyata. Kegiatan diskusi baik formal atau nonformal harus menghidupi ruang kelas, pojok taman bahkan bangku seminar. Aktivis tarbiyah harus mampu berargumentasi logis dan epistemologis. Pemikiran sistemik secara tidak langsung membantu pesona tarbiyah semakin eksis di kalangan mahasiswa.

Manusia Cerdas Bermoral

Penulis meyakini tarbiyah sebagai proses pembentukan manusia cerdas dan shalih. Tanpa keimanan, kecerdasan menjadikan kita buta akan realitas. Manusia buta akan menjadi budak akal dan kehilangan pegangan agama ketika mengarungi kehidupan. Manusia cerdas tanpa keimanan, hanya menjadikan diri seorang tuli. Orang tuli bercermin bak sufi yang meninggalkan kehidupan duniawi. Mereka menganggungkan kehidupan ke-Tuhanan dan berusaha menghilangkan kehidupan dunia. Tarbiyah tidak seperti itu, justru hakikat tarbiyah membentuk manusia sempurna. Matang secara akal, kuat secara ruhani sehingga tercipta manusia cerdas bermoral.

Dinamika kampus dan kehidupan akademis menjadi batu bata penguat tarbiyah. Mahasiswa tarbiyah akan dipandang sebagai “leader” jika menampilkan dirinya sebagai sosok cerdas dan elegan. Jika di kelas, dialah pemimpin akademis yang layak dibanggakan. Ketika masyarakat kampus membutuhkan, maka ia siap menuangkan gagasan dan aksi nyata. Keluwesan pergaulan membuatnya mampu beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan. Jika berhasil diimplementasikan, kesan ekslusif perlahan memudar berganti wajah inklusif. Jadikan kita manusia yang mampu mewarnai tanpa menghilangkan jati diri sebagai muslim kaffah.

Katanya Allah itu Ada, Mana Buktinya? Kenapa Tidak Bisa Kita Lihat?

Kisah ini termasuk kategori ‘Raddus-Syuhubuhat’ (jawaban atas tuduhan) tentang Islam. Musuh-musuh Islam selalu mencari-cari permasalahan dalam agama ini yang sulit dijawab oleh logika kita dan tujuannya agar kaum Muslimin ragu terhadap kebenaran agama mereka, terutama masalah aqidah.

Ada tiga orang pemuda yang ingin menguji pemahaman seorang ulama tentang Islam. Kalau ulama itu tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, apalagi orang awam. Dan kalau tidak ada jawaban yang logis dan memuaskan, maka ada kelemahan dalam agama ini.

Ketiga pemuda itu menemui sang ulama, dengan penuh yakin bahwa sang ulama tidak bisa menjawab pertanyaannya, salah satunya mulai berbicara,

“Ya syeikh, katanya Allah itu ada, mana buktinya? Kenapa tidak bisa kita lihat?”

“Cukup? Ya, ada pertanyaan lagi?” sambut ulama itu.

“Ada syeikh, katanya Allah telah menentukan segalanya, termasuk amal perbuatan kita sudah ditentukan dan ditakdirkan. Kalau memang demikian, kenapa musti ada hisab? Dan kenapa musti ada hukuman bagi orang yang melakukan kesalahan?” pemuda kedua bertanya.

“Ya bagus. Ada lagi yang ditanyakan?” tantang syeikh itu.

“Ya ada lagi syeikh. Katanya syetan itu diciptakan dari api. Dan kita tahu bahwa syetan nanti akan dimasukkan ke dalam neraka. Apa ada pengaruhnya, api dibakar dengan api?” Tanya pemuda ketiga.

“Cukup atau ada lagi?”

“Cukup syeikh.”

“Ya sebentar ya…”

Sang ulama tidak menjawab melainkan mengambil beberapa genggam tanah keras lalu…

Pluk… prak…duss…

Dilemparkan tanah keras itu ke muka ketiga pemuda itu, dan ketiganya meringis kesakitan. Darah pun bercucuran dari wajah mereka.

“Ya syeikh, kami bertanya baik-baik, kenapa Anda melempar kami?”

“Itu jawabannya…” jawab ulama itu.

Ketiga pemuda itu pergi dan langsung membawa kasus ini ke pengadilan. Melaporkan perbuatan ulama itu agar diadili karena kezhalimannya.

Pengadilan menerima pengaduannya pemuda tersebut dan ulama itu pun dipanggil.

Saat sudah berada di atas kursi terdakwa hakim mulai memproses hukumnya dan menanyakan kepada ulama itu perihal dakwaan ketiga pemuda itu.

“Ya syeikh,” kata hakim. “Benarkah Anda telah menyakiti ketiga pemuda ini? Bisa Anda jelaskan?”

“Ketiga pemuda itu menanyakan tiga hal dan saya telah menjawabnya.”

“Jawaban macam apa syeikh? Lalu kenapa mereka terluka seperti itu?”

“Ya, itu jawabannya.”

“Saya tidak mengerti, bisa Anda jelaskan?”

“Mereka bertanya bahwa Allah itu ada, jika ada, mana buktinya? Kenapa kita tidak bisa melihatnya? Sekarang saya bertanya, bagaimana rasanya saya lempar dengan tanah keras itu? Sakit?”

“Jawab wahai pemuda?” minta hakim kepada salah satunya.

“Ya sakit.”

“Kalau memang sakit, berarti sakit itu ada, kalau memang ada, mana buktinya? Kenapa saya tidak melihat ‘sakit’ itu?”

“Ini, darah ini syeikh. Darah ini tanda bahwa sakit itu ada.”

“Begitulah pak Hakim, dia tidak bisa membuktikan adanya sakit dan tidak bisa melihat sakit itu, hanya menunjukkan tandanya, darah. Bahwa sesuatu yang ada tidak mesti bisa dilihat. Tapi ada tanda-tandanya. Sakit itu ada dan tidak bisa kita lihat, hanya ada buktinya, darah. Demikian halnya dengan Pencipta kita, Allah Azza wa Jalla. Ia ada, namun keterbatasan akal kita tidak bisa menangkap keberadaan-Nya. Dan seluruh makhluk di jagad raya ini adalah bukti bahwa Allah itu ada.”

“Bisa diterima,” sela hakim.

“Pertanyaan yang kedua pak hakim, mereka bertanya bahwa Allah telah menentukan segalanya termasuk amal perbuatan manusia dan mentakdirkannya, jika demikian, apa gunanya hisab dan kenapa mesti ada hukuman bagi orang yang berbuat salah?”

“Apa jawaban Anda syeikh?”

“Sekarang saya bertanya kepada kalian. Kalau Anda berkeyakinan seperti itu, kenapa melaporkan perbuatan saya ke pengadilan? Perbuatan saya kan sudah ditentukan?”

“Bisa diterima syeikh, ada lagi?

“Yang ketiga bertanya, syetan adalah makhluk yang diciptakan dari api, lalu di akhirat nanti akan masuk neraka dan disiksa dengan api. Dan saya telah melempar mereka dengan tanah, kita tahu bahwa manusia diciptakan dari tanah, kalau memang sama-sama dari tanah kenapa mesti meringis kesakitan?”

Hakim pun menerima argumentasinya dan memutuskan bebas untuk sang ulama…

Selasa, 08 Februari 2011

10 Karakteristik pribadi Muslim

Al-Qur'an dan hadits adalah dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang sangat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim.

Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Persepsi atau gambaran masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyahnya saja.

Padahal, itu hanyalah salah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.


1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuanNya.

Sabtu, 22 Januari 2011

4 Pilar Kompetensi Siswa

Untuk mencapai tujuan dan sasaran dakwah sekolah, maka ada 4 pilar kompetensi yang harus dibangun secara massif terhadap medan dakwah sekolah, khususnya para siswa:

1. Kompetensi Imani
Para pelajar diberikan informasi dan pengajaran tentang dasar-dasar Islam, dibimbing ruhaninya, diarahkan potensinya, diluruskan akhlaknya, baik terhadap Allah SWT, orang tua, guru dan sesama pelajar. Mereka mampu mengaktualisasikan nilai-nilai tauhid dalam kesehariannya. Aqidah yang lurus, akhlak yang baik, ruhani yang bersih, ibadah yang benar, wawasan keislaman yang baik, pandai menjaga waktu dan